Saturday, 2 April 2016

Kumo Desu ga, Nani ka? Chapter 12

12. Reuni yang menyentuh (lol)


Ah, Aku lapar.
Tapi, kalau tidak ada mangsa yang tertangkap di jaringku, maka tidak ada makanan.
Tidak ada pilihan lain, jadi Aku akan tidur dahulu.
Aku harus tidur untuk menyimpan tenagaku.
Un, bukannya aku ingin males-malesan ya?






Disaat kupikir Aku bisa tidur dengan nyenyak, Aku bangun dengan terpaksa.
Karena ada vibrasi yang terpancarkan oleh benangku.

Apakah ada mangsa yang datang?
Kegembiraanku berubah menjadi ketidaksabaran tepat setelah mengetahuinya.
Aku tahu kondisi jaringku yang terhubung dengan benangku dengan jelas.
Ini adalah perasaan yang berbeda dengan sebelumnya.

Ada yang menyentuh jaringnya.
Dengan pasti.
Tapi, tidak tertangkap oleh jaringnya.
Karena, dia berjalan di jaringnya.

Mustahil.
Memang aku mengira sebelumnya bahwa mungkin ada seseorang yang bisa menembus jaringku, tapi tidak mengira ada orang yang bisa bergerak dengan tenang di jaringnya.

Aku menjadi bingung karena situasi yang tak terkira dan sudah telah untuk mulai bergerak.
Dia sudah melewati jaringnya dan mulai menginvasi wilayah rumahku.

Bahaya.
Meskipun Aku sudah memilih saat ada orang yang bisa menembus jaringku, Aku akan kabur, tapi Aku sedang mengahadapinya sekarang.
Aku ceroboh.
Dengan otakku belum berfungsi dengan baik disaat setelah bangun, Aku kebingungan.
Ini pertamakalinya Aku merasakan hidupku sedang bahaya sejak Aku tinggal dirumahku.

『Taratek Rendah Kecil』

Yang muncul adalah sama sepertiku, Monster laba-laba.
Karena spesies yang sama, dia menembus jaringku tanpa susah payah.

Hello Brother. (TLN: Dia ngomong inggris ハローブラザー)
Aku pikir orang ini adalah saudaraku.
Tapi Aku tidak tahu apakah dia kakak laki-laki atau kakak perempuan atau atau adik laki-laki atau adik perempuan.
Reuni yang menyentuh dengan saudaraku yang terpisah sejak lahir.
Tetapi, nyawaku sedang bahaya.

Tunggu tunggu tunggu.
Tenangkan dirimu.
Belum pasti bahwa orang ini adalah musuh atau bukan.
Meskipun mereka memangsa satu sama lain disaat mereka baru lahir, dia mungkin akan membiarkanku karena hubungan kami sebagai saudara.

Kichikichikichi. Sha!

Ah, un.
Seekor musuh.
Tapi, dia hanya mengancamkanku dan belum menyerang.
Sepertinya dia melihat-lihat sekitar.

Apa yang harus kulakukan?
Melarikan diri sepertinya bukan rencana bagus.
Spesies yang sama denganku. Itu artinya dia memiliki keahlian fisik yang sama denganku.
Sampai sekarang, Aku berhasil sampai kesini dengan kecepatan lariku, tapi tidak ada jaminan kalau Aku bisa melarikan diri dari seseorang yang memiliki kecepatan yang sama denganku.
Ditambah lagi, Aku khawatir dengan keamananku meskipun Aku bisa melarikan diri darinya atau tidak.
Karena diluar diluapi bahaya monster.
Di kondisiku saat ini, kabur dengan kecepatan penuh, memakai semua staminaku, Aku akan menjadi tidak aman kalau Aku pergi keluar.
Membuat rumah baru akan melelahkanku dan terutama, penting untuk mencari lokasi yang bagus.
Dikondisi yang kelelahan, berkeliaran mencari lokasi seperti itu adalah bunuh diri.
Menakutkan saat aku berpikir seperti itu.

Maka, apa yang harus kulakukan? Tentusaja yang tersisa hanyalah mengalahkan orang ini.
Bisakah kulakukan?
Aku ada firasat bahwa aku berada di keadaan yang kurang bagus.
Karena spesiesnya yang sama, harusnya tidak terlalu banyak perbedaan diantara keahlian fisiknya.
Tetapi, kalau, level kami sama.

Kalau orang ini lahir diwaktu yang sama denganku, maka harusnya tidak terlalu ada banyak perbedaan diantara level kami.
Mungkin level yang sama atau 1 level lebih tinggi.
Karena orang ini telah menempuh perjalanan sepanjang jalan diluar dan sampai kesini.
Aku harus berpikir bahwa levelnya lebih tinggi dariku.

Kemungkinan terburuk adalah orang ini lahir sebelumku dan dia pengalaman.
Kalau begitu, levelnya harusnya jauh lebih tinggi dariku.
Dia telah mencapai level dimana ia bisa berjalan terang-terangan ditempat yang kutuju nanti.
Tidak ada kemungkinan untuk menang.

Bagaimanapun juga, ini pertarungan hidup atau mati.
Kalau begitu Aku tidak akan memikirkan tentang kekuatan lawanku lagi.
Aku akan melakukan yang terbaik.
Kalau tidak berguna, maka itu adalah akhir dari hidup laba-laba ini yang pendek.
Meskipun Aku tidak mau mati, ada konsep reinkarnasi di dunia ini, jadi bukan berarti Aku bisa meninggalkan konsep dunia setelah kematian.



Mari tekadkan diriku.
Aku berkonsentrasi untuk bertarung.
Aku kosongkan pikiranku.
Aku menatapkan mataku hanya pada musuh.

Musuh dan Aku kelihatannya mengerti kami berdua sudah siap untuk bertarung jadi Aku bersiaga.
Belakangnya sedikit mencondong.
Tampak seperti lari untuk mendekati.

Musuhnya lompat dengan semangatnya seperti yang telah kuduga.
Ia melompat.
Aku memandang musuhku dengan sedihnya yang sekarang ini ada di udara mengacungkan cakarnya.

Aku melahkah mundur sambil melepaskan benang kearah musuh yang ada di udara.
Orang ini memilih pilihan yang salah.
Ia memilih untuk lompat keudara dan menyerang dengan cakarnya dibandungkan dengan menggunakan senjata terhebat kami, Taring Beracun.
Serangan cakar juga tidak terlalu buruk.
Meskipun tidak buruk, kau hanya harus menggunakannya untuk menahan.
Tidak cocok untuk menggunakannya sebagai senjata utama.
Senjata kami adalah benang dan taring beracun.
Aku tidak akan dikalahkan oleh orang ini yang tidak mengerti itu.

Saudaraku yang tertangkap dengan mudah di udara.
Ia terbelit dengan benangnya dan jatuh ke tanah.
Aku langsung bergegas kepadanya.

Chmp!

Aku menggigit badannya dengan taring racunku tanpa ampun.
Sama sepertiku, orang ini harusnya punya "Resistensi Racun"
Tapi hal seperti itu tidak penting.
Saat terbelenggu dengan benangnya, hasil pertarungannya sudah jelas.
Yang tersisa adalah Aku hanya butuh memasukkan racun lebih banyak untuk melampaui "Resistensi Racun"nya

《Kecakapan skill tercapai. Skill 『Taring Beracun LV2』 telah menjadi 『Taring Beracun LV3』》

Skill "Taring Beracun" naik level mungkin karena Aku yang terus menerus memasukkan racun dengan jumlah yang banyak ke laba-laba itu.
Diwaktu yang sama, saudaraku berhenti bergerak.
Aku tidak akan melupakanmu, saudaraku.
Sebagai orang bodoh pertama yang menyerang rumahku.





Chapter sebelumnya

No comments:

Post a Comment